Payakumbuh – Atensinews.co.
Harapan sederhana seorang ibu agar putra bungsunya, Kenzo, bisa bersekolah di tempat yang sama dengan kedua kakaknya kini harus berhadapan dengan kenyataan pahit. Meski tinggal di lingkungan yang berdekatan dan kakak-kakaknya sudah lama bersekolah di sana, Kenzo justru ditolak masuk ke SDN 53 Payakumbuh. Padahal keluarga RA yang berdomisili di Parik Rantang RT 002/RW 004 ini tergolong kurang mampu dan sangat bergantung pada penghematan biaya serta kemudahan pengawasan.
Kisah memilukan ini diceritakan langsung oleh ibunda Kenzo saat ditemui awak media, Sabtu (11/7/2026). Suaranya bergetar menahan tangis, matanya berkaca-kaca menceritakan perjuangan agar anaknya mendapatkan hak pendidikan yang layak.
"Kami hanya orang biasa, hidup pas-pasan. Bertahun-tahun kami berusaha keras menyekolahkan kedua kakaknya di SDN 53 itu, dan alhamdulillah mereka diterima. Sekarang giliran adiknya, Kenzo, justru tidak diterima. Apakah karena kami orang miskin, anak kami tidak berhak sekolah di tempat yang sama dengan kakaknya?" ujarnya penuh keprihatinan.
Keluarga RA mengaku hanya mendaftarkan Kenzo ke satu sekolah saja, yaitu SDN 53 Payakumbuh, dengan harapan yang sangat besar. Alasannya sederhana namun sangat mendesak: jika Kenzo harus bersekolah di tempat lain yang berjarak jauh, beban biaya transportasi dan kesulitan mengantar-jemput akan menjadi beban yang mustahil mereka pikul.
"Harapan kami cuma satu: Kenzo bisa sekolah di tempat kakaknya. Bisa sekalian kakak yang mengantar dan menjemput. Mengingat kondisi ekonomi kami, kami benar-benar tidak sanggup jika harus mengantar dua anak ke arah yang berbeda atau membayar ongkos setiap hari," jelas ibu tersebut dengan nada putus asa.
Keputusan penolakan itu disampaikan dengan alasan sistem penerimaan peserta didik baru yang menentukan kelulusan berdasarkan jarak tempat tinggal. Namun hati keluarga ini semakin hancur dan bingung, saat mengetahui ada anak lain yang jarak rumahnya jauh dari sekolah tersebut justru dinyatakan diterima.
"Kami bingung sekali dengan aturan yang berlaku di Kota Payakumbuh ini. Katanya sistem yang memutuskan, tapi kenapa yang rumahnya jauh justru diterima, sedangkan kami yang ingin menyatukan anak-anak kami di satu sekolah justru ditolak? Padahal kami hanya mendaftar di satu sekolah itu saja. Sampai hari ini, Kenzo belum dapat tempat sekolah sama sekali," keluhnya.
Saat ini nasib pendidikan Kenzo masih belum jelas. Ia belum mendapatkan alokasi tempat di sekolah manapun. Oleh karena itu, keluarga ini dengan segenap kerendahan hati memohon kepada Pemerintah Kota Payakumbuh, khususnya Dinas Pendidikan, untuk segera turun tangan dan memberikan solusi yang adil bagi anak mereka.
"Kami memohon kepada pemerintah, berikanlah jalan keluar bagi Kenzo. asalkan anak kami bisa sekolah. Tapi jika memungkinkan, kami sangat berharap ia bisa bersama kakaknya. Hak Kenzo untuk mendapatkan pendidikan harus tetap dipenuhi, jangan biarkan ia tertinggal hanya karena sistem yang tak berpihak pada kami," pungkasnya penuh harap di tengah kesedihan yang mendalam.
( Aweng )


0 Komentar