Sentruman Bus Listrik Bisa Saja Penyebab Korsleting Berjama'ah?


Payakumbuh - Atensinews.co.

Rencana Pemerintah Kota Payakumbuh menghadirkan transportasi publik berbasis kendaraan listrik menuai beragam tanggapan. Di satu sisi langkah ini dipandang sebagai terobosan menuju kota yang ramah lingkungan, namun di sisi lain sejumlah tokoh masyarakat mempertanyakan kesiapan dan kelayakannya secara logika serta kebutuhan nyata daerah.
 
Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta menyampaikan rencana tersebut saat menerima kunjungan manajemen PT Zeven Metro International di Rumah Dinas Wali Kota, Selasa (14/7/2026). Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari pembahasan sebelumnya pada 9 Juli 2026, di mana pihak perusahaan mempresentasikan bus listrik berukuran sedang berkapasitas hingga 22 penumpang.
 
Pemko: Langkah Menuju Transportasi Berkelanjutan
Zulmaeta menjelaskan, kendaraan listrik direncanakan menjadi moda transportasi masa depan kota. Tahap pertama diprioritaskan untuk melayani kebutuhan angkutan pelajar yang aman dan bebas emisi, sebelum kemudian diperluas secara bertahap melayani masyarakat umum.
 
"Kota Payakumbuh ke depan direncanakan akan menggunakan moda transportasi ramah lingkungan. Langkah awal yang menjadi prioritas kami adalah untuk menunjang kebutuhan transportasi anak sekolah secara aman dan rendah emisi," ujar Zulmaeta.
 
Pemko menilai karakteristik wilayah Payakumbuh yang relatif kompak dengan jarak tempuh rata-rata sekitar 10 kilometer justru menjadi keunggulan bagi efisiensi operasional kendaraan listrik. Pemerintah daerah juga akan mengkaji kesiapan infrastruktur pendukung serta skema implementasi yang sesuai.

Latar belakang Keputusan Walikota Payakumbuh mengalirkan Dana TKD (Transfer Ke Daerah) Belasan Milyar untuk Pengadaan Bus Listrik tampak seperti membakar-bakar Uang Rakyat saja atau mungkin saja Pemko sudah kehabisan akal untuk membelanjakan Anggaran TKD?

Dan salah satu penyebab penyaluran Anggaran TKD secara terburu-buru ini adalah   tersiarnya Informasi yang dapat dipercaya bahwa batas waktu penggunaan Dana TKD hanya sampai Bulan Agustus 2026, Jika tidak dibelanjakan maka anggaran akan kembali diambil pusat.

Malah Pengadaan Angkutan Massal seperti Bus Listrik ini tidak ada dalam Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Payakumbuh terbaru difokuskan pada periode 2025-2029. 

Dalam RPJMD Pemerintah Kota Payakumbuh menetapkan 5 misi utama yang berfokus pada peningkatan sumber daya manusia (SDM) berkualitas, mewujudkan iklim ekonomi kompetitif, tata kelola pemerintahan, infrastruktur, serta pelestarian budaya.

Rencana pembangunan ini selaras dengan tahapan perencanaan yang dijalankan oleh Bappeda Kota Payakumbuh, yang meliputi musyawarah mulai dari tingkat RW, Nagari, hingga tingkat Kecamatan. 

Rancangan ini dirancang agar program-program pembangunan bersifat konkret, terukur, dan berkelanjutan.

Disamping itu Sejumlah tokoh masyarakat Kota Payakumbuh menyentil Pengadaan Bus Listrik, Mereka menilai rencana tersebut belum layak diterapkan dan perlu dipikirkan secara logis dan mendalam.
 
"Kita harus berpikir secara logika. Kota Payakumbuh ini belum layak diberi kendaraan listrik. Kalau tujuannya melayani anak sekolah, lingkaran rutenya mau diputar ke mana? Daerah ini kecil, jarak antar sekolah pun relatif dekat. Mulai dari SDN, SMP hingga SMA, letaknya tersebar di dalam kota yang tidak luas," ungkap salah satu tokoh masyarakat.
 
Masyarakat juga mengingatkan pengalaman masa lalu. "Lihat saja angkutan kota seperti Sago, sudah mati suri dan sepi penumpang. Bagaimana dengan kendaraan listrik ini? Bukankah justru akan membebani anggaran jika tidak ada yang memanfaatkannya?" tegas mereka.
 
Keraguan itu muncul bukan tanpa alasan. Pola pergerakan warga Payakumbuh yang berjarak pendek dinilai belum membutuhkan angkutan khusus biaya Pengadaannya sangat mahal ini.

Sebelum menambah jenis angkutan baru, masyarakat berharap Pemko lebih dulu mengkaji kebutuhan nyata, pola perjalanan warga, serta keberlangsungan angkutan yang sudah ada agar tidak menjadi beban anggaran daerah di kemudian hari.

"Belum lagi Infrastruktur Pendukung Bus Listrik juga belum ada, seperti : Tempat Cas Baterai, Halte, Sumber Daya Tekhnis dan Manusia yang belum ada, semuanya akan jadi Penghambat Jika masih terus dipaksa Pengadaannya" sindirnya.

Siapa yang akan Naik Bus Listrik?
Pemberlakuan Sistem Zonasi disetiap Sekolah membuat Bus Listrik makin tidak bermanfaat, 
"Jarah rumah ke sekolah itu paling jauh 1-2 Km (Zonasi) dan dapat dipastikan Orang tua akan lebih nyaman mengantar Anaknya secara mandiri Pakai Roda dua daripada melepas anaknya Naik Bus Listrik yang belum tentu aman?" tukuknya.

"Jangan-jangan diatas Anak-anak kami diatas malah kena korsleting secara berjamaah" cemasnya.

( Aweng )

0 Komentar