Cirebon - Atensinews.co.
Di ujung Timur Kota ada daerah perbukitan berdiri pondok pesantren yang lebih dikenal dengan sebutan Pondok Ilmu Derma Agung yang lebih dikenal dengan nama Piderma Agung, mengadakan kegiatan upskilling UMKM, yang dihadiri sebanyak 40 pondok pesantren dari berbagai wilayah di Jawa Barat berkumpul di Pondok Pesantren Piderma, Kelurahan Argasunya, Kota Cirebon, Kamis (25/6/2026), dalam program penguatan kemandirian ekonomi pesantren yang melibatkan multistakeholder, yaitu Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Pemerintah Kota Cirebon, PT Pertamina EP Zona 7, Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU), Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI), Rumah Edukasi Kenanga, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Program tersebut bertujuan mendorong pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga berkembang sebagai pusat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mampu menciptakan lapangan usaha dan menggerakkan ekonomi masyarakat.
Staf Khusus Bidang Kerukunan Beragama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Gus Ulun Nuha menjelaskan dalam sesi obrolan dengan insan media, Pondok Pesantren memiliki potensi yang sangat besar dalam menggerakkan perekonomian masyarakat. "Potensi ekonominya yang sangat besar. Di Jawa Barat terdapat sekitar 12.799 pondok pesantren. Jika potensi ini berkembang, dampaknya akan sangat signifikan bagi perekonomian masyarakat," ujar Gus Ulun.
Lebih lanjut Gus Ulun menerangkan hasil evaluasi menunjukkan bahwa banyak pesantren telah memiliki produk usaha, namun masih memerlukan penguatan dalam aspek pemasaran, komunikasi, dan pemanfaatan teknologi digital. Karena itu, kegiatan tersebut menghadirkan pelatihan yang berfokus pada pengembangan UMKM, komunikasi pemasaran, pembangunan jejaring usaha, serta digitalisasi bisnis.
Effendi Edo, Walikota Cirebon menyebut kegiatan yang digelar di Pondok Ilmu Derma Agung (Piderma) itu sebagai terobosan baru dalam pengembangan pesantren. "Pesantren bukan hanya tempat belajar ilmu agama, tetapi juga dapat menjadi pusat pengembangan UMKM yang menghasilkan produk untuk dipasarkan dan mampu memperkuat ekonomi masyarakat," ujarnya.
Lebih lanjut walikota menyampaikan, program yang masih berada pada tahap sosialisasi dan pembinaan awal tersebut diharapkan mampu membangkitkan ekonomi kerakyatan sekaligus memperkuat kemandirian pesantren.
Pemerintah Kota Cirebon, siap membantu promosi dan pemasaran produk-produk pesantren melalui berbagai program pemberdayaan UMKM, termasuk memanfaatkan fasilitas Mall UMKM yang dimiliki pemerintah daerah, ungkap walikota sebelum meninggalkan lokasi kegiatan.
Ia menilai keberadaan Piderma yang berada di kawasan selatan Kota Cirebon justru menyimpan potensi besar untuk dikembangkan. Apabila UMKM di kawasan tersebut tumbuh, maka akan membuka peluang pembangunan dan menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.
Pimpinan Pondok Pesantren Piderma, Gus Kharis Abbas, menyampaikan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi pesantren melalui kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, setiap pesantren memiliki potensi usaha yang berbeda-beda dan perlu didampingi agar mampu berkembang secara berkelanjutan.
Beberapa sektor usaha yang telah berjalan di lingkungan pesantren antara lain produksi makanan ringan seperti keripik usus dan usus kering, budidaya ikan air tawar seperti nila, gurami, dan lele, serta usaha peternakan kambing dan ayam.
Gus Kharis berharap setiap pesantren memiliki unit usaha yang bisa menopang kebutuhan operasionalnya. Santri juga tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi memiliki keterampilan kewirausahaan dan digital
Ia menjelaskan bahwa tim penyelenggara akan melakukan verifikasi, validasi, dan pendampingan terhadap potensi usaha yang dimiliki masing-masing pesantren agar dapat berkembang dalam skala yang lebih besar.
Sementara itu, Head of Communication, Relations & CID PT Pertamina EP Zona 7, Wazirul Luthfi, mengatakan keterlibatan Pertamina EP dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen tanggung jawab sosial perusahaan untuk mendukung pemberdayaan masyarakat.
Ia menambahkan, pendekatan kegiatan kali ini dibuat berbeda. Jika biasanya pesantren yang mendatangi berbagai forum pelatihan, kali ini para stakeholder justru datang langsung ke pesantren untuk melihat kondisi, tantangan, dan potensi yang ada di lapangan.
Luthfi juga mengapresiasi konsep yang dikembangkan Piderma. Menurutnya, pesantren yang berdiri di kawasan bekas tambang tersebut berhasil mengembangkan lingkungan yang lebih hijau melalui berbagai kegiatan konservasi dan penanaman tanaman produktif. "Ini menjadi energi positif karena tidak semua pesantren memiliki program dan karya seperti yang dilakukan Piderma," katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI), Prof. Dr. Atwar Bajari, M.Si., menekankan pentingnya peran komunikasi dalam mendorong kemandirian ekonomi pesantren. Menurutnya, banyak pesantren yang sesungguhnya telah memiliki produk unggulan, namun belum mampu menjangkau pasar yang lebih luas karena keterbatasan dalam strategi komunikasi dan pemasaran.
"Pesantren memiliki modal sosial yang luar biasa — kepercayaan masyarakat, jaringan alumni, dan nilai-nilai yang kuat. Tugas kita bersama adalah membantu mereka mengemas dan mengkomunikasikan potensi itu agar bisa bersaing di era digital," ujar Atwar.
Melalui kolaborasi antara pesantren, pemerintah, dunia usaha, dan berbagai organisasi pendukung, program ini diharapkan mampu melahirkan lebih banyak pesantren mandiri yang tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Barat.
(Hatta)


0 Komentar