Palembang – Atensinews.co.
Pemberitaan mengenai kondisi memprihatinkan Lia, warga RT 45 RW 09 Kelurahan Kemang Agung, Kecamatan Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan, yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, akhirnya menyita perhatian publik. Berkat viralnya kisah hidupnya, Sabtu (11/04), pihak pemerintahan setempat, yakni Lurah Kemang Agung, dikabarkan turun langsung menjenguk dan meninjau lokasi tempat tinggalnya.
Dalam keterangannya kepada awak media, Lia mengaku kedatangan Lurah Kemang Agung untuk menanyakan kondisi serta bantuan sosial (bansos) apa saja yang selama ini pernah diterimanya.
"Lurah Kemang Agung datang menjenguk, mempertanyakan saya dapat bansos apa saja," ujar Lia.
Namun, jawaban tersebut justru memunculkan kekecewaan mendalam di hati Lia. Menurutnya, dirinya sudah berkali-kali didata oleh pihak terkait, namun hasilnya nihil.
"Saya merasa kecewa luar biasa. Sudah sering, tidak terhitung kali lagi didata. Sejak sebelum saya mengontrak di sini, anak saya yang kecil ini pun belum lahir. Saya ingat betul sudah dua sampai tiga kali didata, tapi sampai sekarang tidak ada ceritanya. Saya orang kecil ini sepertinya hanya jadi mainan," keluhnya dengan nada sedih.
Saat menanyakan hal tersebut kepada Lurah, jawaban yang diterima hanyalah anjuran untuk bersabar, dengan alasan bahwa penentuan penerima bantuan ada di tangan "orang atas". Hal ini justru memunculkan pertanyaan besar bagi Lia.
"Jawaban Lurah cuma menyuruh sabar, bilang ini yang menentukan orang atas. Tapi yang jadi pertanyaan saya, apa orang pusat benar-benar tahu kondisi warga di bawah? Orang pusat ibarat makanan yang tinggal terima masak, yang mengelola dan mencari bahan kan orang di bawah," tuturnya.
Menurut Lia, Pihak di bawahlah yang memiliki peran penuh mengumpulkan data warga untuk dilaporkan ke atas.
"Jadi kunci utamanya ada di orang bawah yang dipegangi amanah untuk mendata warga. Timbul pertanyaan dalam hati, apakah hanya orang-orang tertentu saja yang didata dan datanya diajukan ke atas?" tanyanya.
Lia juga menyinggung soal dinamika di lingkungan tempat tinggalnya. Ia menilai adanya pilih kasih dan pembelahan warga, terutama setelah peristiwa warga berniat menurunkan Ketua RT karena dinilai kurang maksimal dalam berkinerja beberapa waktu lalu.
"Setelah warga mau menurunkan Ketua RT tempo hari dan Ketua RT bersikukuh mempertahankan jabatan, warga RT 45 seolah terpecah. Setelah saya renungkan memang benar, warga yang membangkang sudah pasti di 'tandai' dan diabaikan," ungkapnya.
Sebagai bukti, Lia menceritakan soal pembagian zakat dari seorang dermawan yang rutin membagikan bantuan tiap menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Dulu ia biasa mendapatkannya, namun kini tidak lagi.
"Dulu saya dapat, sekarang tidak dapat lagi. Padahal kondisi kehidupan orang yang dapat sekarang justru lebih mampu dibanding saya. Ini kan zakat orang pribadi, bukan bantuan pemerintah yang jelas ada nama penerimanya.
"Menurut saya, sedekah orang pribadi ini tergantung yang memegang amanah. Kalau ia senang sama orang tersebut, ia kasih. Sebaliknya kalau tidak senang, walau kondisinya pantas dan layak menerima, aku rasa tidak akan mungkin dapat" jelasnya.
Di akhir perbincangan, Lia menyatakan sudah lelah dan "kenyang" dengan janji manis semata. Menurutnya, perhatian baru muncul setelah kisahnya viral di media.
"Saya sudah kenyang dengan janji-janji. Selama ini tidak ada perhatian sama sekali, baru viral langsung turun nanya data, dikasih harap 'nanti kita ajukan'. Sekadar dikasih harapan, dari dulu sampai sekarang begitu," pungkas Lia.
( Tim )


0 Komentar