Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Cepat, Petani Majalengka Diminta Percepat Tanam MT II

Majalengka - Atensinews.co.

‎Stasiun Klimatologi Jawa Barat merilis prediksi musim kemarau 2026 yang diperkirakan datang lebih cepat dari biasanya. Berdasarkan analisis dinamika atmosfer dan data periode normal 1991–2020, musim kemarau tahun ini akan didominasi curah hujan di bawah normal di sebagian besar wilayah Jawa Barat.

‎Awal musim kemarau diprakirakan berlangsung bertahap mulai Maret hingga Juni 2026, dengan puncak sebagian besar wilayah memasuki musim kemarau pada Mei 2026.

‎Menindaklanjuti hal tersebut, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Majalengka menghimbau para petani untuk mempercepat masa tanam Musim Tanam II (MT II).

‎Kepala DKP3 Majalengka, H. Gatot Sulaeman, mengatakan pihaknya telah menginstruksikan para penyuluh lapangan pertanian agar segera berkoordinasi dengan kelompok tani di masing-masing wilayah.

‎“Saat ini belum seluruh petani melakukan panen. Sebagian masih bersiap panen MT I karena sebelumnya mengalami keterlambatan tanam akibat curah hujan yang tidak merata,” ujar Gatot, Sabtu (11/4/2026).

‎Ia menjelaskan, beberapa wilayah seperti Kecamatan Jatitujuh, Ligung, dan sebagian Kertajati mengalami kendala pasokan air irigasi, sehingga berdampak pada mundurnya jadwal tanam.

‎Untuk itu, petani didorong agar segera melakukan tanam MT II setelah panen MT I selesai, guna mengantisipasi musim kemarau yang diperkirakan datang lebih awal.

‎“Seluruh petugas lapangan sudah kami minta siaga, terutama untuk daerah sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan. Mereka harus segera memanfaatkan sisa waktu sebelum kemarau tiba,” jelasnya.

‎Sementara itu, capaian produksi pertanian di Kabupaten Majalengka hingga Maret 2026 menunjukkan hasil yang cukup positif. Tercatat luas panen mencapai 31.253 hektare dengan total produksi sebesar 204.261 ton gabah sejak Januari hingga Maret 2026.

‎Di lapangan, para petani menyambut imbauan tersebut dengan berbagai respons. Dedi (45), petani asal Kecamatan Ligung, mengaku siap mempercepat tanam jika kondisi air mencukupi.

‎“Kalau air masih ada, kami siap tanam lebih cepat. Tapi kalau sudah mulai kering, tentu jadi kendala. Harapannya ada solusi irigasi atau bantuan pompa,” ujarnya.


‎Sementara itu, Ujang (50), petani di wilayah Jatitujuh, menilai percepatan tanam menjadi langkah yang tepat, namun perlu didukung ketersediaan sarana produksi.

‎“Benih, pupuk, dan air harus siap. Kalau semuanya mendukung, kami optimis hasilnya tetap bagus meski kemarau lebih cepat,” ungkapnya.

‎Dengan adanya sinergi antara pemerintah dan petani, diharapkan sektor pertanian di Kabupaten Majalengka tetap produktif meskipun menghadapi tantangan perubahan iklim di tahun 2026.

‎(Iding)

0 Komentar