GUNUNGSITOLI,
ATENSINEWS.co - Insiden penghadangan dan
pembubaran massa aksi Aliansi Massa Pergerakan Rakyat Nias (AMPERA) di kawasan
Tugu Meriam, Kota Gunungsitoli, Kamis (22/1/2026), berbuntut panjang dan meluas
menjadi polemik sosial yang menyita perhatian publik, baik di tingkat lokal
maupun nasional.
Peristiwa
yang semula merupakan aksi damai penyampaian aspirasi terkait pembentukan
Provinsi Kepulauan Nias itu dihentikan oleh sekelompok orang yang mengaku
sebagai warga Kampung Baru, Kelurahan Ilir. Mereka mengklaim Tugu Meriam
sebagai “milik masyarakat setempat”. Klaim tersebut memicu perdebatan luas di
ruang publik, terutama karena lokasi tersebut selama ini dikenal sebagai
fasilitas umum.
Namun,
eskalasi ketegangan justru meningkat setelah beredarnya siaran langsung media
sosial dari seorang pemilik akun Facebook Zulkifli Backill yang diketahui merupakan pengusaha dengan toko di
sekitar simpang Meriam. Dalam video yang sempat beredar luas sebelum akhirnya
dihapus, yang bersangkutan terdengar melontarkan pernyataan yang oleh banyak
warganet ditafsirkan sebagai merendahkan martabat masyarakat Nias.
Dalam
rekaman yang viral itu, ia terdengar mengatakan: “Mereka itu tadi mau ngajak
untuk pembentukan Provinsi Kepulauan Nias. Provinsi apa yang mau dibentuk,
SDM-nya aja nggak ada…”
Potongan
pernyataan tersebut memicu kemarahan publik. Banyak pihak menilai ucapan itu
tidak sekadar kritik politik, melainkan telah menyentuh ranah penghinaan
terhadap kapasitas dan martabat kolektif masyarakat Nias. Video tersebut
ditonton puluhan ribu kali dan menyebar cepat di berbagai platform.
Klarifikasi yang Tak Meredam Amarah
Pada
Senin pagi (26/1/2026), video siaran langsung itu diketahui telah dihapus.
Beberapa jam kemudian, pemilik akun facebook Zulkifli Backill, mengunggah video klarifikasi dan permintaan
maaf. Dalam pernyataannya, ia mengaku tidak bermaksud menghina masyarakat Nias
dan menyebut istilah “SDM” yang ia maksud adalah Sumber Daya Mineral, bukan Sumber
Daya Manusia.
“Saya meminta maaf kepada seluruh masyarakat Nias
yang tersinggung. Tidak ada maksud merendahkan. SDM yang saya maksud adalah
Sumber Daya Mineral,” ujarnya dalam video klarifikasi,
Senin (26/1/2026) siang.
Namun,
klarifikasi tersebut tidak serta-merta meredakan kekecewaan publik. Banyak
warga menilai penjelasan itu tidak sejalan dengan konteks ucapan dalam video
awal yang telah beredar luas.
Gelombang Massa dan Respons Aparat
Pada
Senin sore (26/1/2026), ribuan warga dari berbagai wilayah di Nias mendatangi
kawasan Simpang Meriam, lokasi usaha yang bersangkutan. Mereka menuntut
pertanggungjawaban atas ucapan yang dinilai melukai harga diri masyarakat Nias.
Situasi
sempat memanas sebelum aparat kepolisian mengambil langkah cepat dengan
mengamankan yang bersangkutan ke Polres Nias guna menghindari potensi benturan
horizontal serta penyelidikan lebih lanjut.
(Yantonius Hulu)


0 Komentar