GUNUNGSITOLI,
ATENSINEWS.co - Aliansi Massa Pergerakan Rakyat Nias (AMPERA) menggelar
aksi demonstrasi di dua titik strategis, yakni RSUD dr. M. Thomsen Nias dan
Kantor Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.5 pada Kamis, 15 Januari 2026. Aksi ini
menjadi akumulasi kekecewaan publik terhadap buruknya tata kelola layanan
kesehatan dan pemeliharaan jalan nasional di Kepulauan Nias.
Di RSUD dr. M.
Thomsen Nias, AMPERA menyoroti dugaan penyimpangan proyek renovasi ruang kamar
operasi untuk Cathlab yang bersumber dari APBD Kabupaten Nias senilai hampir
Rp1 miliar, namun belum rampung hingga Januari 2026. AMPERA juga mengkritisi
pengelolaan anggaran RSUD dr. Thomsen Tahun Anggaran 2025 yang mencapai lebih
dari Rp82 miliar dari APBD, mencakup belanja jasa pelayanan, obat-obatan, bahan
medis habis pakai, pengadaan alat dan mesin, reagensia laboratorium,
pengelolaan limbah, logistik hemodialisa, konsumsi pasien dan petugas, hingga
pemeliharaan rumah sakit.
Sementara itu, di
Kantor PPK 3.5 Satker Pelaksana Jalan Nasional Wilayah III, Balai Besar Pelaksanaan
Jalan Nasional Provinsi Sumatera Utara, AMPERA menilai pola pemeliharaan jalan
nasional selama ini bersifat tambal sulam dan tidak menyentuh persoalan
struktural, sehingga anggaran terserap tanpa menghasilkan perbaikan yang
berkelanjutan.
AMPERA juga menduga
adanya persekongkolan antara PPK 3.5 dan pihak rekanan, menyusul PT Karunia
Sejahtera Sejati yang berturut-turut menjadi pelaksana pekerjaan pemeliharaan
jalan nasional sejak 2017 hingga 2025. Selain itu, keberadaan kantor PPK 3.5
yang dinilai sulit diakses publik, berada di gang-gang sempit dan jarang
dilalui masyarakat, disebut memperlemah pengawasan. Dugaan minimnya kehadiran
pegawai di kantor tersebut turut dikaitkan dengan rendahnya kualitas hasil
pekerjaan di lapangan.
Dalam orasinya, Sekretaris
Jenderal AMPERA, Yason Yonata Gea, S.Pd., menegaskan bahwa RSUD dr. M. Thomsen
merupakan simbol tanggung jawab negara. “Ketika proyek kesehatan bermasalah,
yang dikorbankan bukan hanya uang negara, tetapi nyawa rakyat. Ini bukan
sekadar kelalaian administratif, melainkan kegagalan politik anggaran,”
tegasnya.
AMPERA juga
memprotes kondisi jalan nasional di Pulau Nias yang dinilai rusak dan
terbengkalai, tidak sebanding dengan anggaran pemeliharaan yang digelontorkan
setiap tahun. Kerusakan tersebut disebut menghambat mobilitas ekonomi,
meningkatkan biaya logistik, serta memperlebar ketimpangan pembangunan
antarwilayah.
Koordinator AMPERA,
Agri Handayan Zebua atau yang akrab disapa Bung Mikoz, menduga adanya persoalan
struktural dalam perencanaan, pengawasan, dan pelaksanaan proyek jalan
nasional, termasuk minimnya transparansi anggaran. “Jalan nasional yang rusak
menunjukkan negara hadir secara simbolik, tetapi absen secara substansial,”
ujarnya.
Dalam tuntutannya,
AMPERA mendesak Bupati Nias, Inspektorat, serta aparat penegak hukum untuk
melakukan audit investigatif terhadap proyek Cathlab RSUD dr. M. Thomsen dan
seluruh paket pekerjaan jalan nasional di bawah tanggung jawab PPK 3.5. Mereka
juga menuntut evaluasi menyeluruh terhadap pejabat terkait serta pembukaan
dokumen proyek kepada publik.
Aksi berlangsung
tertib dengan pengawalan aparat keamanan. AMPERA menegaskan bahwa demonstrasi
ini bukan titik akhir, melainkan awal konsolidasi rakyat untuk menuntut
keadilan anggaran, akuntabilitas kekuasaan, dan pembangunan yang berpihak pada
kepentingan publik di Kepulauan Nias.
(Yantonius Hulu)


0 Komentar