Saatnya Paniai Angkat Piala: Persipani Tidak Boleh Berhenti Di 16 Besar

Paniai - Atensinews.co.

‎Saya masih ingat dulu, kalau orang luar dengar “Paniai”, yang muncul di kepala mereka hanya keterbatasan. Hari ini narasinya berubah. Orang mulai bertanya: “Persipani itu dari mana? Kok bisa tembus 16 besar Liga 4 Piala Presiden?”

‎Jawaban saya sederhana: karena ada Bupati Paniai yang berani berpihak. Ada Ketua KONI Paniai yang menjaga marwah olahraga. Ada Manajer, pelatih, dan pemain Persipani yang mau berdarah-darah di lapangan. Inilah sejarah baru yang kita tulis bersama.

‎Saya bangga. Bangga sebagai anak negeri. Bangga karena untuk pertama kali, nama Paniai disebut nasional karena prestasi, bukan karena luka. Para pejuang Persipani sebelum kita sudah menanam. Generasi hari ini yang menyiram dan menuai.

‎Tapi mari bicara jujur. 16 besar itu indah, tapi ia bukan garis finish. Ia hanya pintu masuk ke ruang yang lebih berat. Lawan makin kuat, sorotan makin tajam, tekanan makin tinggi. Di titik ini, Persipani diuji: mau jadi “tim kejutan satu musim” atau mau jadi “raja baru sepak bola daerah”?

‎Saya yakin Paniai bisa juara. Karena modalnya sudah lengkap. Bupati sudah buka jalan lewat keberpihakan anggaran dan kebijakan. KONI sudah jaga jalur pembinaan agar tetap bersih dari kepentingan sesaat. Manajer dan tim sudah buktikan kerja lapangan tidak bohong. Kombinasi ini mahal. Banyak daerah lain iri, tapi tidak punya.

‎Soal juara, saya hanya titip 3 pesan untuk para pemimpin perjuangan ini:

‎*Pertama, untuk Bupati Paniai.* Teruskan keberpihakan sampai piala diangkat. Jangan berhenti di tengah jalan. Sejarah tidak akan mengingat bupati yang hanya antar tim ke 16 besar. Sejarah akan mencatat bupati yang mengantar Paniai juara. Konsistensi Bapak hari ini adalah warisan abadi untuk anak cucu Paniai.

‎*Kedua, untuk Ketua KONI Paniai.* Kawal Persipani dengan marwah olahraga. Jaga agar klub ini tetap milik bersama: orang Paniai. Begitu Persipani ditarik ke politik praktis atau ego kelompok, ia akan mati sebelum juara. Tugas Bapak memastikan ia tetap rumah besar kita semua.

‎*Ketiga, untuk Manajer, pelatih, dan seluruh pemain.* Kalian sedang menulis sejarah dengan kaki dan keringat. Juara tidak jatuh dari langit. Ia lahir dari detail: disiplin latihan, nutrisi, recovery, analisis lawan, dan mental yang tidak gampang goyah. Tim juara itu dingin saat ketinggalan, rendah hati saat unggul. Tanam mental itu setiap hari. Ingat: latihan hari ini adalah piala besok.

‎Lalu mengapa Paniai harus juara? Karena kita butuh simbol kemenangan. Terlalu lama kita hanya jadi objek belas kasihan. Kini saatnya dunia lihat Paniai karena piala, karena kerja keras anak mudanya, karena sportivitas.

‎Bayangkan anak kecil di Diye, di Madi, di Siriwo, lihat Persipani angkat piala di TV. Saat itu juga, mimpi mereka tumbuh. Mereka akan bilang: “Kalau kakak dari gunung bisa, saya juga bisa.” Efek berganda itu lebih mahal dari APBD.

‎Orang tua kita bilang: “Alam dan Tuan Alam Paniai menyertai perjuanganmu”. Benar. Tapi alam juga mengajar: pohon tinggi hanya kuat kalau akarnya dalam. Akar Persipani adalah kebersamaan, manajemen bersih, dan cinta tanpa syarat pada daerah.

‎Karena itu, saya tutup dengan tekad anak negeri: Kami di belakang kalian. Sorak saat menang, rangkul saat kalah, kritik dengan data bukan makian.

‎Paniai sudah buktikan bisa. Sekarang buktikan layak. Satu suara, satu semangat, satu target: Piala Presiden untuk Paniai!

‎(Mr Jeri Kogopa Kogopa S.HI)

0 Komentar