Palembang – Atensinews.co.
Masih belum berhenti persoalan di balik pengelolaan Dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kertapati. Setelah kasus di Kemang Agung yang ramai dibahas, kini sorotan tajam kembali mengarah ke lokasi lain. Kali ini giliran Dapur MBG yang berlokasi di Lorong Jhonson, RT 10 RW 03 Kelurahan Kemas Rindo, Kertapati Palembang. yang masuk daftar pantauan ketat awak media dari Media Center Jurnalis Kertapati (MC-JK). Kuat dugaan, dapur ini sama sekali tidak menerapkan aturan dan standar operasional sebagaimana mestinya. MC-JK bahkan sudah memberi sinyal tegas: jika terbukti melanggar aturan, maka sebaiknya segera disegel dan ditutup permanen!
Informasi ini diperoleh langsung dari laporan warga yang setiap hari sering melintas di depan lokasi dapur tersebut. Warga yang meminta namanya disamarkan ini menceritakan kondisi yang dilihatnya sehari-hari, dan menilainya sangat jauh dari kata layak serta memenuhi syarat sebagai dapur pengolah makanan bergizi program negara.
"Tempatnya saja kecil, tidak memadai. Pemandangan yang paling aneh itu, petugas satpam atau pengaman yang seharusnya jaga di dalam atau di sekitar area dapur, malah duduk santai di kursi di halaman seberang jalan, jauh dari area kerja dapur itu sendiri," dikarenakan Pos Jaga Tidak ada dikarenakan tempatnya kecil ungkap warga tersebut kepada tim MC-JK.
Namun, poin yang paling menjadi sorotan utama dan pertanyaan besar adalah soal kepatuhan terhadap dokumen lingkungan atau AMDAL. Sesuai aturan yang berlaku, setiap dapur MBG wajib memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) atau penampungan limbah yang layak, agar sisa pembuangan tidak mencemari lingkungan. Namun menurut pantauan warga, hampir dipastikan atau sekitar 99%, dapur ini sama sekali tidak memiliki fasilitas wajib tersebut.
Ada pemandangan ganjil yang kerap terjadi, terutama saat malam hari. Warga sering melihat selang besar melintang di atas jalan raya tepat di depan dapur. Selang itu terhubung dari dalam dapur ke luar.
"Kami heran, apa yang disedot atau dialirkan lewat selang itu? Apakah air kotor atau sebaliknya? Yang pasti ada cairan yang mengalir, entah itu limbah sisa cucian masakan atau air bersih, kami belum tahu pasti. Tapi yang jelas, setelah selang itu dilepas atau dipakai, jalanan jadi becek dan basah kuyup terkena cairan itu," cerita warga dengan penuh rasa penasaran sekaligus kekhawatiran.
Pemandangan makin mencurigakan saat terlihat ada mobil pikap terparkir di lokasi. Di bagian belakang mobil itu terpasang tangki penampung air (Tedmon). Dan yang lebih jelas lagi, selang yang melintang di jalan tadi itu tersambung langsung dari arah dalam dapur ke tangki yang ada di atas mobil tersebut. Muncul dugaan kuat, limbah atau cairan dari dalam dapur dibuang atau dipindahkan lewat cara seperti ini, yang jelas-jelas tidak sesuai prosedur baku pengelolaan limbah.
Menanggapi fakta-fakta yang ditemukan di lapangan, Jhoni Antoni, salah satu awak media yang tergabung dalam MC-JK, mengecam keras pengelolaan yang dianggap sembarangan ini. Ia menegaskan bahwa program MBG adalah milik negara, inisiatif langsung Bapak Presiden Prabowo Subianto untuk kecerdasan anak bangsa, bukan usaha pribadi yang aturannya bisa dibuat-buat sendiri seenaknya pemilik.
"Kami minta tegas kepada pihak berwenang, baik itu Dinas Terkait maupun DLHK, segera turun lakukan sidak ke lokasi ini. Cek satu per satu persyaratannya. Kalau memang terbukti mereka melanggar aturan, tidak punya IPAL, tempat tidak layak, dan buang limbah sembarangan seperti ini, maka segera segel dan tutup saja dapur itu!" tegas Jhoni dengan nada tinggi.
Jhoni menambahkan, hal ini sangat memprihatinkan dan berbahaya. Bagaimana mungkin kita berharap anak-anak bangsa menjadi cerdas, sehat, dan kuat, jika sumber makanan yang mereka konsumsi diolah di tempat yang tidak memenuhi kriteria kebersihan, kesehatan, dan standar yang sudah ditetapkan?
"Jangan sampai program mulia ini ternoda dan rusak gara-gara oknum yang cuma memikirkan keuntungan pribadi semata, tapi mengabaikan aturan dan keselamatan konsumen. MC-JK akan selalu memantau dan mengawal ini sampai tuntas. Publik berhak tahu mana yang benar-benar bekerja sesuai aturan, dan mana yang cuma numpang nama program negara demi keuntungan sendiri," pungkas Jhoni Antoni.
Sampai berita ini dimuat, belum ada penjelasan resmi dari pengelola dapur Lorong Jhonson. Warga pun berharap tindakan nyata segera dilakukan agar lingkungan bersih dan makanan yang diterima anak-anak benar-benar terjamin mutunya.
(Tim)


0 Komentar