Tokoh Masyarakat Luak Limapuluh Pertanyakan Kejelasan Laporan Skandal VCS Bupati Safni Sikumbang

Limapuluh Kota - Atensinews.co.

‎Skandal video call seks (VCS) yang menyeret nama Bupati Limapuluh Kota, Safni Sikumbang, terus memicu perdebatan di kalangan masyarakat. Setelah dua kali melakukan klarifikasi yang belum menjawab inti pertanyaan publik mengenai apakah ia menjadi aktor dalam video tersebut, kini sejumlah tokoh masyarakat Luak Limapuluh Kota mengajukan pertanyaan baru terkait laporan yang diklaim telah diserahkan ke Polda Sumatra Barat.

‎Sebelumnya, Safni Sikumbang telah melakukan klarifikasi pertama pada Sabtu, 28 Februari 2026, melalui tulisan di media sosial. Ia meminta maaf atas kegaduhan yang timbul dan menyebutkan bahwa orang dalam video diduga hanya memiliki kemiripan wajah dengannya. Kemudian, pada Minggu siang, 1 Maret 2026, di rumah kediaman pribadinya di kawasan Akabiluru, Bupati kembali memberikan klarifikasi secara langsung di hadapan masyarakat dan insan pers. Ia menyampaikan permintaan maaf atas dampak yang ditimbulkan terhadap jalannya pemerintahan dan menyatakan telah menyerahkan seluruh persoalan terkait video tersebut ke Polda Sumatra Barat.

‎Namun, penjelasan tersebut belum memuaskan sebagian tokoh masyarakat Luak Limapuluh Kota, salah satunya adalah ZUL EFRIMEN NAZIRSYAH,SH.
‎ Ia mempertanyakan kejelasan mengenai laporan yang diklaim telah masuk ke kepolisian. "Kalau betul laporan sudah masuk ke Kapolda, siapa orang yang melaporkan? Terus surat laporannya (LP) bisakah diperlihatkan ke warga Luak Limapuluh?" ujar ZUL EFRIMEN NAZIRSYAH,SH,
‎yang mewakili kekhawatiran sejumlah elemen masyarakat luak limapuluh.

‎Pertanyaan ini menambah daftar tuntutan kejelasan dari publik terhadap kasus ini. Sebelumnya, masyarakat juga menanti penegasan dari Safni mengenai apakah ia benar-benar menjadi aktor dalam video tak senonoh yang beredar luas tersebut, baik melalui media sosial seperti Facebook dan TikTok maupun di ruang publik lainnya. Banyak warga menilai klarifikasi yang diberikan sejauh ini hanya bersifat seremonial dan belum menyentuh inti permasalahan.

‎Seorang pengguna media sosial dengan akun @Firdaus bahkan menyampaikan kekesalannya melalui unggahan, menyatakan bahwa yang ditunggu adalah keberanian Bupati untuk mengatakan secara jelas apakah orang dalam video itu dia atau bukan, bukan sekadar menyebutkan telah melapor ke polisi. Pernyataan serupa juga disampaikan oleh ratusan warganet lainnya dari berbagai daerah, yang menekankan pentingnya integritas moral dan etika seorang pemimpin.

‎Sementara itu, hingga saat ini, informasi yang beredar hanya menyebutkan bahwa Bupati Safni diklaim sebagai korban sindikat VCS, dengan sebagian pelaku sudah tertangkap. Namun, belum ada laporan yang menjelaskan secara spesifik apakah video tersebut asli atau hasil pengeditan. Pengamat sosial media Arnovi Sikumbang juga menilai bahwa klarifikasi yang diberikan belum cukup untuk meredam asumsi liar yang berkembang, dan menyarankan Bupati untuk segera menjelaskan secara tegas apakah video tersebut dirinya atau bukan demi menjaga integritasnya di mata masyarakat.

‎Publik masih berharap bahwa video yang beredar bukan milik Bupati Safni dan hanya merupakan hasil rekayasa teknologi. Namun, harapan tersebut belum dapat terjawab secara pasti, dan kini pertanyaan mengenai kejelasan laporan ke polisi juga menjadi tuntutan baru yang menanti jawaban dari pihak terkait.

‎( Tim )

0 Komentar